Scroll untuk baca artikel
Dwipa NewsNasionalPendidikanPolitik

KESEIMBANGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL KAMPUS: HOST TVRI DAN PANELIS DEBAT PUBLIK CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

6
×

KESEIMBANGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL KAMPUS: HOST TVRI DAN PANELIS DEBAT PUBLIK CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 05 30 at 12.41.01

DwipaNusantaraPost.Com: KalTeng, 30 Mei 2026 – Perguruan tinggi di Indonesia, khususnya perguruan tinggi Islam, kini berdiri di persimpangan tantangan dan peluang yang sangat besar. Di satu sisi, institusi ini dituntut untuk memperkuat fondasi internal berupa kualitas akademik, tata kelola yang baik, serta budaya riset yang unggul agar mampu bersaing di kancah nasional maupun global. Di sisi lain, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk hadir secara nyata di tengah masyarakat, menjadi rujukan pemikiran, dan turut serta dalam memecahkan persoalan-persoalan strategis bangsa. Keseimbangan antara kekuatan di dalam kampus dan peran aktif di ruang publik inilah yang menjadi tolok ukur relevansi sebuah institusi pendidikan. Di Kalimantan Tengah, sosok Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag., tampil sebagai figur utama yang berhasil menerjemahkan keseimbangan tersebut ke dalam rekam jejak nyata, menyatukan keunggulan akademik, kepemimpinan kelembagaan, serta kontribusi publik yang luas dan berkelas.

Dikenal luas sebagai akademisi dengan kedalaman pemikiran yang luar biasa, Prof. Muhammad memiliki keunggulan khas yang membedakannya dari banyak intelektual lainnya: kemampuan berkomunikasi secara efektif, membumi, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Keahlian ini teruji dan terasah tajam ketika beliau dipercaya oleh stasiun TVRI Palangka Raya untuk memandu program Dialog Publik Bidang Sosial-Keagamaan selama kurun waktu dua tahun, tepatnya dari tahun 2012 hingga 2014. Dalam forum yang disiarkan secara luas itu, beliau tidak sekadar bertindak sebagai pembawa acara atau penengah diskusi, melainkan tampil sebagai pendidik publik sejati. Beliau menghadirkan narasi keagamaan yang moderat, dialogis, dan menyejukkan, jauh dari nuansa ekstrem atau kaku yang sering kali memecah belah persatuan. Isu-isu rumit terkait hubungan antarumat beragama, nilai sosial, dan tantangan kehidupan bermasyarakat mampu beliau uraikan dengan bahasa yang sederhana namun tetap bernas, cerdas, dan berlandaskan data serta pemikiran yang matang. Melalui media massa, Prof. Muhammad membuktikan bahwa ilmu pengetahuan yang tinggi tidak harus menjadi barang yang elitis atau sulit dipahami; sebaliknya, ilmu harus menjadi penerang yang menjangkau setiap lapisan masyarakat.

Keterlibatan beliau dalam membangun karakter bangsa dan ruang publik tidak berhenti di dunia penyiaran. Di luar jadwal mengajar, meneliti, dan tugas kedinasan, Prof. Muhammad juga dikenal aktif berkiprah dalam organisasi kepemudaan sebagai pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Kalimantan Tengah. Langkah ini bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan manifestasi nyata dari kepedulian beliau terhadap masa depan daerah. Melalui organisasi kepemudaan, beliau menanamkan nilai-nilai kepemimpinan sosial, etika kebangsaan, dan semangat kolaborasi. Bagi beliau, dunia kampus dan masyarakat sipil tidak boleh berdiri terpisah atau berjalan sendiri-sendiri. Harus ada jembatan yang kokoh yang menghubungkan intelektual kampus dengan dinamika yang terjadi di masyarakat, agar lahir pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab kebangsaan yang tinggi.

Sebagai seorang intelektual Muslim moderat yang konsisten, Prof. Muhammad memiliki pandangan yang sangat jelas dan tegas mengenai posisi dan fungsi perguruan tinggi Islam di Indonesia. Baginya, menjadi pusat pengajaran dan transfer ilmu saja sudah tidak cukup lagi di era yang terus berubah ini. Perguruan tinggi Islam harus bertransformasi dan berani tampil sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan yang orisinal, pusat penguatan karakter dan moral bangsa, laboratorium pengembangan peradaban, serta garda terdepan dalam pencarian solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa. Visi besar ini tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk dari pengalaman panjang beliau yang melintasi berbagai bidang: akademik, organisasi, media, birokrasi, hingga pengabdian sosial. Pengalaman inilah yang menjadi modal berharga bagi beliau dalam merancang dan membangun tata kelola perguruan tinggi yang unggul, inklusif, adaptif terhadap kemajuan zaman, dan berdaya saing global, namun tanpa pernah melepaskan akar budaya, nilai-nilai keindonesiaan, dan spiritualitas Islam yang luhur.

Menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa kini yang semakin kompleks—mulai dari disrupsi teknologi informasi, persaingan antarinstitusi yang semakin ketat, krisis moral yang mengancam generasi muda, hingga perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung sangat cepat—peran pemimpin akademik menjadi sangat krusial. Pemimpin tidak lagi cukup hanya memiliki kecakapan administratif atau kemampuan mengelola anggaran semata. Dibutuhkan sosok yang memiliki visi intelektual yang jauh ke depan, keteladanan moral yang kuat, serta keberanian untuk mengambil keputusan strategis. Prof. Muhammad hadir menjawab kebutuhan tersebut dengan karakter kepemimpinan yang tenang, matang, bijaksana, dan selalu berorientasi pada kemajuan bersama. Prinsip utama yang beliau pegang teguh adalah bahwa kepemimpinan akademik bukanlah sekadar jabatan struktural atau simbol kekuasaan, melainkan sebuah amanah peradaban yang sangat berat tanggung jawabnya. Kampus, di mata beliau, adalah ruang suci untuk menumbuhkan bibit-bibit ilmu pengetahuan, merawat integritas dan kejujuran, memperkuat harapan generasi muda, serta membangun pondasi masa depan bangsa yang lebih berkeadaban dan beradab. Dalam kerangka pemikiran inilah, seluruh perjalanan hidup dan pengabdian Prof. Muhammad menjadi sebuah refleksi indah tentang bagaimana ilmu pengetahuan, pengabdian masyarakat, dan kepemimpinan dapat berjalan beriringan menuju satu tujuan mulia.

Kapasitas intelektual dan integritas moral yang dimiliki Prof. Muhammad diakui luas tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dalam panggung demokrasi dan pembangunan daerah. Namanya mulai dikenal sebagai sosok yang cerdas, objektif, dan berwibawa, bahkan dijuluki sebagai The Rising Stars atau bintang yang sedang bersinar terang di kancah publik Kalimantan Tengah. Kepercayaan masyarakat dan pemerintah terhadap beliau terbukti dari berbagai penunjukan strategis yang pernah diemban. Pada periode 2008–2012, beliau dipercaya menjadi bagian dari Tim Seleksi Calon Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Tengah, sebuah tugas yang menuntut standar kejujuran, keadilan, dan objektivitas tingkat tinggi.

Lebih dari itu, kiprahnya semakin meluas dan mendalam ketika beliau dilibatkan langsung dalam momen-momen krusial Pilkada sebagai penilai gagasan publik. Pada tahun 2012, beliau menjadi panelis sekaligus penguji gagasan dalam debat publik calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Barito Selatan, saat pertarungan politik mempertemukan berbagai figur strategis daerah. Puncak pengakuan publik atas otoritas keilmuannya terjadi pada tahun yang sama, ketika Prof. Muhammad ditunjuk secara resmi menjadi panelis utama dalam Debat Terbuka Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah. Ini adalah forum paling bergengsi dalam siklus demokrasi daerah, yang disaksikan langsung oleh ribuan warga melalui layar kaca maupun kehadiran fisik. Penunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa beliau dipandang memiliki otoritas akademik yang mumpuni serta independensi moral yang tak tergoyahkan, sehingga dianggap layak untuk mengawal ruang demokrasi agar berjalan sehat, substantif, dan benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat banyak.

Dalam setiap forum debat yang beliau pandu atau ikuti sebagai panelis, Prof. Muhammad selalu meninggalkan kesan mendalam. Beliau dikenal sebagai sosok yang mampu melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam, kritis, namun tetap santun dan bernas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak berputar pada isu-isu permukaan atau serangan pribadi, melainkan selalu mengarah pada visi pembangunan jangka panjang daerah. Isu ekonomi kerakyatan, tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif, peningkatan mutu pendidikan, ketahanan pangan, hingga pembangunan masyarakat yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal Kalimantan menjadi fokus utama sorotan dan pertanyaan beliau. Pengalaman berharga ini semakin mempertegas posisi Prof. Muhammad sebagai intelektual publik sejati—bukan akademisi yang hanya hidup dan berpikir di ruang-ruang teoretis semata, melainkan sosok yang mampu menjembatani dunia kampus, birokrasi pemerintahan, industri media, dan masyarakat sipil dalam satu irama pembangunan yang harmonis. Kehadirannya dalam forum-forum strategis tersebut menampilkan kapasitas kepemimpinan yang matang, kemampuan menganalisis dan membaca persoalan sosial secara komprehensif, serta komitmen yang sangat kuat terhadap pembangunan demokrasi yang beretika, berkeadilan, dan beradab.
WhatsApp Image 2026 04 05 at 16.43.16
Di balik sorotan publik dan peran strategisnya di luar kampus, Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag., juga memiliki rekam jejak kepemimpinan kelembagaan di lingkungan pendidikan tinggi Islam yang panjang, kokoh, dan sangat berpengaruh. Sejak awal perjalanan pengabdiannya di dunia akademik, beliau telah menunjukkan bakat alami dalam memimpin, merancang visi kelembagaan, serta komitmen tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia dan penguatan institusi tempatnya bernaung.

Langkah besar dalam karier kepemimpinan kampus dimulai pada periode 2001–2005, ketika beliau dipercaya menjabat sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palangka Raya. Dalam posisi vital tersebut, beliau berperan aktif dan determinan dalam memperkuat sistem akademik secara menyeluruh, meningkatkan standar kualitas proses pembelajaran, merancang dan mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta menata ulang budaya akademik di lingkungan kampus agar lebih progresif, kritis, dan adaptif. Kepemimpinan beliau pada masa itu dianggap meletakkan fondasi yang sangat penting dan kuat bagi penguatan mutu pendidikan tinggi Islam di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah se-Kalimantan Tengah.

Kontribusi beliau juga sangat terasa dalam pengembangan gagasan ekonomi umat. Prof. Muhammad dikenal luas sebagai salah satu perintis utama gerakan ekonomi syariah di wilayah Kalimantan Tengah. Beliau terlibat aktif dan langsung dalam merintis berdirinya organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) wilayah Kalimantan Tengah, sebuah inisiatif strategis yang bertujuan untuk memperkuat literasi dan pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah, membangun jejaring kerja sama yang erat antara akademisi, praktisi bisnis, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, serta memperluas penerapan dan implementasi sistem ekonomi Islam di tengah masyarakat luas. Peran ini menjadi bukti nyata perhatian beliau yang besar terhadap kemajuan ekonomi umat dan transformasi sosial yang berlandaskan nilai-nilai syariah yang adil dan berkesejahteraan.

Di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palangka Raya—yang kemudian mengalami perkembangan pesat menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya—nama Prof. Muhammad tercatat emas dalam sejarah pengembangan disiplin ilmu ekonomi Islam. Pada periode 2006–2009, beliau dipercaya memegang jabatan Ketua Program Studi Ekonomi Islam. Di bawah kendali dan visi kepemimpinan beliau, program studi tersebut tumbuh dan berkembang sangat pesat hingga diakui menjadi salah satu pusat kajian ekonomi syariah yang paling diperhitungkan di kawasan Kalimantan. Beliau aktif membangun kultur akademik yang kritis dan produktif, mendorong semangat penelitian dan penguatan riset ekonomi Islam, serta memperluas jejaring kerja sama akademik dengan berbagai lembaga pendidikan dan penelitian di tingkat nasional.

Kepercayaan institusi terhadap kapasitas akademik sekaligus kemampuan manajerial beliau yang luar biasa kemudian berlanjut ke jabatan yang lebih strategis. Pada tahun 2009–2013, beliau diangkat menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M). Dalam posisi sentral ini, Prof. Muhammad memainkan peran kunci dalam mendorong penguatan tradisi riset dan publikasi ilmiah di kalangan dosen dan mahasiswa, serta memastikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat benar-benar didasarkan pada kebutuhan riil sosial. Beliau selalu menekankan satu hal penting: kampus tidak boleh hanya menjadi pusat transmisi ilmu pengetahuan dari dosen ke mahasiswa, tetapi harus hadir dan tampil sebagai kekuatan transformasi sosial yang nyata, yang mampu memberikan solusi atas persoalan-persoalan mendesak masyarakat, mulai dari pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan, pembinaan dan pemberdayaan desa, hingga penguatan pemahaman moderasi beragama yang damai.
IKLAN
Perjalanan akademik Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag., dari awal hingga mencapai puncak karier dan reputasi saat ini, adalah sebuah kisah inspiratif tentang ketekunan yang tak kenal lelah, keberanian bermimpi besar, dan daya tahan intelektual yang dibangun semata-mata melalui kerja keras, disiplin tinggi, dan pengorbanan panjang. Beliau resmi diangkat menjadi dosen di STAIN Palangka Raya pada tahun 2000, setelah berhasil menyelesaikan studi Magister Agama bidang Konsentrasi Ekonomi Islam di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebelumnya, beliau telah menamatkan pendidikan Sarjana Lengkap dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab, sebuah latar belakang yang menunjukkan keluasan wawasan dan kemampuan adaptasi ilmu yang dimilikinya.

Yang mengagumkan dari riwayat pendidikannya adalah catatan waktu penyelesaian studi yang sangat luar biasa. Program magister yang ditempuhnya diselesaikan dengan penuh kesungguhan dan disiplin hanya dalam waktu sekitar 16 bulan saja. Sebuah capaian prestasi yang sejak awal sudah memperlihatkan kualitas intelektual, efisiensi, dan orientasi prestasi yang kuat dalam diri beliau. Tidak lama setelah diangkat menjadi dosen dan memulai tugas pengabdiannya, kehidupan pribadi dan akademiknya memasuki fase yang sangat penting dan menentukan. Pada tanggal 28 Februari 2002, beliau mempersunting seorang dara cantik keturunan Bugis, Dra. Nuryani, yang saat itu berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Kota Palangka Raya. Pernikahan bahagia ini menjadi titik awal pembangunan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, sekaligus menjadi penguat utama semangat dan perjuangan akademik beliau. Bersama istrinya yang setia dan mendukung penuh, ia membangun mimpi besar: bahwa pendidikan tinggi yang sedang diperjuangkannya bukan sekadar pencapaian pribadi atau kebanggaan diri, melainkan jalan panjang pengabdian yang ditujukan untuk kemajuan umat, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

Dengan tekad baja dan dukungan keluarga yang kokoh, beliau mulai merancang langkah selanjutnya, yaitu studi doktoral, dengan target yang sangat ambisius namun realistis: ingin menyelesaikannya dalam waktu relatif cepat. Maka, pada tanggal 1 September 2003, ia resmi mendaftar dan memulai pendidikan Doktor di Universitas Negeri Malang. Dalam perjalanan akademik yang penuh dengan disiplin ketat, kerja intelektual intensif, dan semangat belajar yang tinggi, beliau berhasil menyelesaikan seluruh program doktoral tersebut dengan sangat cemerlang pada tahun 2006. Masa tempuh studinya hanya sekitar 26 bulan atau tepatnya dua tahun dua bulan. Rekor waktu yang sangat singkat ini menjadikannya salah satu pemecah rekor doktor bidang ekonomi tercepat sepanjang sejarah Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang pada masa itu. Beliau meraih gelar Doktor pada usia yang masih sangat muda, yakni 34 tahun. Sebuah capaian gemilang yang semakin mengukuhkan reputasinya di mata rekan sejawat dan institusi sebagai akademisi muda yang progresif, cerdas, dan sangat produktif.

Namun, di balik deretan prestasi gemilang tersebut, perjalanan intelektual Prof. Muhammad tidak selalu berjalan lurus, mulus, atau tanpa hambatan dan tantangan berat. Di tengah semangatnya yang menggebu-gebu untuk terus membangun kapasitas diri berstandar global, beliau pernah memiliki cita-cita besar untuk melanjutkan studi lanjut ke perguruan tinggi terkemuka di luar negeri. Dengan penuh optimisme dan persiapan matang, ia telah mencoba mendaftar ke berbagai universitas bergengsi di Australia, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski berbagai upaya dan usaha keras tersebut belum membuahkan hasil yang diinginkan, beliau tidak pernah sekalipun kehilangan semangat atau menyerah pada keadaan.

Kesempatan emas untuk berkuliah di luar negeri kembali datang menghampiri ketika ia resmi diterima pada program doktoral di International Islamic University Malaysia, salah satu kampus Islam terbaik di dunia. Akan tetapi, tepat pada momentum penting dan menentukan itu, ia dihadapkan pada sebuah pilihan hidup yang sangat sulit dan berat, sebuah persimpangan jalan antara idealisme akademik dan tanggung jawab keluarga yang mulia. Saat itu, kondisi istri tercinta beliau sedang mengandung anak kedua mereka. Dengan kedewasaan hati dan pemikiran yang luar biasa, serta rasa tanggung jawab yang tinggi, ia mengambil keputusan besar yang sangat manusiawi dan bijaksana: bertahan dan menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Negeri Malang. Keputusan ini menjadi refleksi mendalam tentang kedewasaan hidup beliau, sebuah bukti nyata bahwa cinta kasih kepada keluarga, tanggung jawab moral, dan kewajiban sebagai kepala rumah tangga tidak boleh dikorbankan hanya demi ambisi pribadi semata, sebesar apa pun ambisi tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor dengan hasil memuaskan pada tahun 2006, ia kembali ditugaskan ke lembaga asalnya, STAIN Palangka Raya, pada tahun 2007 atas rekomendasi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Kepulangan ini bukanlah akhir dari mimpi-mimpi akademiknya, melainkan awal dari fase baru pengabdian intelektual yang lebih luas dan mendalam. Saat itu, di benak beliau mulai terbentuk target besar berikutnya dalam karier akademik: ingin mencapai puncak jabatan akademik tertinggi, yaitu Guru Besar atau Profesor, pada usia yang relatif muda. Inspirasi dan tekad ini muncul setelah melihat salah seorang kolega seniornya berhasil meraih jabatan bergengsi tersebut di usia 38 tahun. Sejak saat itu, ia membangun disiplin akademik yang sangat ketat dan konsisten: menulis karya ilmiah setiap hari, melakukan penelitian mendalam, mengajar dengan penuh dedikasi, aktif menghadiri forum dan pertemuan ilmiah nasional maupun internasional, serta membangun jejaring kerja sama yang luas di dalam dan luar negeri.

Namun, takdir dan dinamika kebijakan pendidikan nasional membawa warna tersendiri bagi perjalanan menuju jabatan Guru Besar tersebut. Pada periode ketika beliau mulai mematangkan persiapan administrasi dan keilmuan, regulasi akademik nasional di Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan dan mendasar. Persyaratan untuk diangkat menjadi profesor diperketat secara drastis, termasuk kewajiban mutlak untuk memiliki publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi dan terindeks dalam basis data global seperti Scopus. Perubahan aturan main ini secara otomatis membuat target pribadinya untuk meraih jabatan Guru Besar pada usia relatif muda harus tertunda. Hal itu terjadi tepat di saat usianya menginjak 41 tahun, usia yang sebenarnya masih sangat muda dan produktif bagi dunia akademik. Meski tertunda, semangat, kerja keras, dan dedikasi Prof. Muhammad tidak pernah surut. Baginya, keseimbangan antara penguatan internal kampus dan kontribusi eksternal di ruang publik tetaplah menjadi misi utama yang terus dijaga dan dijalani, menjadikan dirinya sosok akademisi paripurna yang dibutuhkan Kalimantan Tengah dan Indonesia.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *