Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
DwipaNusantaraPost.Com, 18 Februari 2026.
Nak,
waktu berjalan tanpa suara. Ia tidak pernah meminta izin untuk membuat kita dewasa.
Aku melihatmu hari ini—lebih matang, lebih tenang, lebih berdiri dengan pilihan-pilihanmu sendiri. Tanpa terasa, anak yang dulu sering kurangkul dan kupeluk kini telah berdiri dengan keyakinannya sendiri. Dunia yang dulu hanya kaulihat dari kejauhan, sekarang telah menjadi tempatmu melangkah.
Sebagai ayah, aku sering bertanya dalam diam:
nilai apa yang benar-benar tinggal dariku di dalam dirimu?
Sebagai seorang jurnalis independen, aku hidup di dunia yang penuh perubahan. Berita hari ini bisa dilupakan esok. Opini yang keras bisa reda dalam hitungan waktu. Dunia bergerak cepat, dan tidak semuanya bertahan.
Karena itu aku tidak ingin hanya menjadi bagian dari kenangan dalam hidupmu.
Aku ingin menjadi fondasi.
Aku tidak bisa menjamin jalanmu akan selalu mulus. Aku tidak bisa melindungimu dari semua tekanan. Aku tidak selalu bisa berdiri di sampingmu ketika keputusan besar harus kauambil.
Namun aku bisa meninggalkan jejak.
Jejak tentang bagaimana memilih benar ketika salah terasa lebih mudah.
Jejak tentang bagaimana berdiri teguh ketika harus sendirian.
Jejak tentang bagaimana memeluk prinsip lebih erat daripada ambisi.
Aku ingin ketika engkau berada dalam tekanan, engkau teringat bagaimana ayahmu berusaha hidup dengan integritas. Aku ingin ketika engkau dihadapkan pada pilihan yang menguntungkan tetapi tidak benar, engkau berani berkata tidak.
Aku tidak ingin engkau hidup di bawah bayang-bayangku.
Aku ingin engkau melampauiku—lebih bijaksana, lebih kuat, lebih rendah hati.
Jika suatu hari aku tidak lagi dapat merangkulmu seperti dulu, aku berharap nilai yang kutanam tetap memeluk hatimu. Bahwa kejujuran bukan sekadar kata, tetapi cara hidup. Bahwa integritas bukan hanya prinsip yang diucapkan, tetapi keputusan yang dijalani.
Dunia akan menawarkan banyak hal: jabatan, pengaruh, keuntungan. Tetapi tidak semua yang terlihat besar memberi ketenangan.
Harapanku sederhana:
Pilih benar meski tidak populer.
Pilih damai meski tidak mudah.
Pilih Tuhan di atas segalanya.
Karena yang membuat seorang ayah tenang bukanlah melihat anaknya memiliki segalanya,
melainkan melihat anaknya tetap menjadi dirinya yang sejati—teguh, jujur, dan takut akan Tuhan.
Dan jika suatu hari orang bertanya siapa engkau,
aku berharap jawabannya bukan tentang siapa ayahmu,
melainkan tentang siapa engkau di hadapan Tuhan.
Itulah doaku.
Itulah kerinduanku.
Itulah pelukan yang ingin tetap tinggal dalam hidupmu,
meski waktu terus berjalan.













